Cerita Delia Wati Putri dari Bandung Jemput Mimpi jadi Ners di Kuwait
“Saya tidak secara khusus ingin Negara Kuwait yang saya tuju. Ini by chance saja, lalu setelah semua proses panjang itu berhasil, saya justru merasa Kuwait adalah negara yang ideal untuk bekerja sebagai perawat,” aku Delia.
Perjalanan Delia Wati Putri (29) menuju Kuwait bukanlah hasil rencana besar yang disusun jauh-jauh hari. Semuanya bermula dari sebuah kesempatan yang datang di tengah kesibukannya sebagai perawat di Jakarta. Namun, dari kesempatan yang awalnya terlihat biasa itu, Delia justru menemukan ruang baru untuk bertumbuh, belajar, dan membuktikan diri di panggung internasional.
Mojangl Bandung ini mengaku tak sejak awal menargetkan Kuwait sebagai tujuan kerja. Ia menyebut keberangkatannya sebagai sesuatu yang datangnya dari sebuah kesempatan.
Saat itu, ia masih bekerja sebagai perawat di Jakarta ketika sebuah lowongan kerja sebagai perawat di Kuwait muncul.
Namun, keputusan untuk mencoba bukanlah keputusan impulsif. Di balik langkah itu, ada kesiapan yang matang. Baginya, kesempatan itu datang bersamaan dengan keyakinan bahwa ia memang siap melangkah lebih jauh..
Lulusan Sarjana Keperawatan dan Ners dari Bandung ini memulai kariernya di tengah pandemi COVID-19. Setelah lulus pada 2019 dan menyelesaikan Pendidikan Ners pada 2020, ia langsung bekerja sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit. Situasi pandemi yang berat justru menjadi pintu awal baginya untuk mengasah ketangguhan.
Dari pekerjaannya tersebut, Delia ditempatkan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) atau Unit Perawatan Intensif Neonatal. Unit ini merupakan ruang perawatan intensif di rumah sakit yang dikhususkan untuk bayi baru lahir yang membutuhkan pengawasan dan penanganan medis khusus. Pengalaman di NICU ini yang kemudian menjadi bekal Delia ketika akhirnya diterima bekerja di Kuwait.
“Ketika situasi pandemi mulai Alhamdulillah ikut pelatihan NICU, ada sertifikasi dari rumah sakit,” kata Delia.
Rekrutmen Ners di Kuwait
Melalui wawancara secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (8/10/2026), Delia menceritakan rekrutmen yang ia ikuti berlangsung secara mandiri melalui jalur resmi pemerintah Kuwait.
“Prosesnya memang panjang, tetapi gratis dan transparan. Pendaftaran secara online, mengunggah beberapa dokumen, lalu wawancara daring berbahasa Inggris, melalukan medical check up (MCU) hingga menerima job offer sebelum akhirnya berangkat,” tutur Delia mengenang masa seleksi yang ia jalani kala itu.
Bagi Delia, yang membuatnya yakin bukan hanya keberadaan lowongan, tetapi juga informasi yang ia cek berulang kali. Ia mencari kepastian, memverifikasi sumber, dan semakin mantap setelah melihat adanya komunitas perawat Indonesia, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) di Kuwait.
“Saya benar-benar googling, apakah benar infonya resmi. Kemudian ada satu hal yang membuat saya tambah yakin, karena ada PPNI Kuwait,” katanya.
Di balik proses administrasi yang panjang, ada pengorbanan besar yang harus ia jalani. Saat mengurus legalisasi dokumen, ia masih tetap bekerja sebagai perawat di Indonesia. Waktu istirahatnya diisi dengan berpindah dari satu kantor ke kantor lain untuk mengurus berkas. Meski melelahkan, Delia memilih bertahan.
“Kesulitannya karena pada saat itu saya masih kerja. Jadi sulit bagi saya untuk membagi waktu,” ujar Delia.
Restu Keluarga
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dari perjalanannya. Sebagai anak bungsu perempuan, Delia sempat menghadapi keraguan dari sang ibu. Namun, ia tidak menyerah dengan menunjukkan bukti-bukti bahwa rekrutmen yang diikutinya resmi, sekaligus meyakinkan keluarga bahwa dirinya siap menjaga diri dan nama baik keluarga.
“Saya mau kerja di luar negeri. Ini mimpi saya. Insya Allah saya bisa jaga diri,” ucap Delia menirukan kembali keyakinannya saat berbicara kepada sang ibu.
Usahanya pun berbuah hasil. Gayung bersambut, sang Ibunda pun luluh dan memberikan restu atas keinginan Delia berangkat ke Kuwait.
Ners di Kuwait
Kini, setelah sekitar dua tahun bekerja di Kuwait, Delia bertugas di NICU sebuah rumah sakit negeri di bawah Ministry of Health Kuwait. Baginya, pekerjaan itu sangat selaras dengan pengalaman yang telah ia bangun sejak di Indonesia.
“Kalau saya memang pengennya di NICU, jadi saya pilih NICU dan Alhamdulillah enggak berubah jalur,” kata Delia.
Adaptasi di negara baru pun bukan perkara kecil. Tantangan pertama yang ia hadapi adalah bahasa. Di lingkungan kerjanya, Bahasa Inggris menjadi bahasa utama, mengingat tenaga kesehatan di Kuwait berasal dari berbagai negara.
“Yang pertama saya adaptasi bahasa. Bagaimana cara berkomunikasi, karena dengan komunikasi yang baik, kerjanya juga lebih lancar,” ujarnya.
Ia menambahkan, setiap pekerja di Kuwait dituntut bekerja sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing.
“Intinya kerja sebagai sesuai job desk saja,” ucapnya.
Delia merasa sistem kerja di Kuwait justru membuatnya berkembang. Ia menjadi lebih fokus, lebih profesional, dan lebih cepat beradaptasi. Terlebih, peralatan dan perlengkapan kesehatan di Kuwait, menurutnya sudah berteknologi tinggi.
Fasilitas selama di Kuwait
Di sisi lain, ia juga mendapatkan fasilitas yang cukup baik, mulai dari akomodasi, makan tiga kali sehari, hingga transportasi ke rumah sakit.
“Alhamdulillah, saya menginjakkan kaki di Kuwait itu langsung difasilitasi beberapa hal. Mulai dari akomodasi, tempat tinggal, beserta makan tiga kali sehari, kemudian transportasi,” jelasnya.
Soal penghasilan, Delia menyebut bahwa gaji perawat di Kuwait cukup menjanjikan, terutama bagi mereka yang bekerja di rumah sakit negeri. Ia menjelaskan bahwa kisaran gaji bisa mencapai 700 hingga 1.000 Dinar Kuwait atau setara dengan nilai Rp40 juta hingga Rp58 juta, tergantung pengalaman kerja dan tempat penugasan.
Work Life Balance
Meski jauh dari keluarga, Delia merasa aman menjalani kehidupan di Kuwait. Ia menyebut negara itu relatif aman dan menghargai perempuan. Di luar jam kerja, ia juga aktif di PPNI Kuwait dan Forum Diaspora Indonesia Kuwait, dua wadah yang membuatnya tetap dekat dengan sesama orang Indonesia.
“Banyak kegiatan kemanusiaan dan kegiatan lain. Jadi bukan cuma kerja saja, tapi kita juga work life balance,” ujarnya.
Bagi Delia, pengalaman terpenting dari semua ini bukan sekadar soal gaji atau karier, melainkan keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Ia berharap kisahnya bisa menjadi penyemangat bagi perawat muda di Indonesia agar berani mencoba peluang internasional.
“Coba saja dulu. Kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya,” katanya.
Tips Kerja Luar Negeri ala Delia
Delia memercayai, Bahasa Inggris adalah kunci utama untuk membuka pintu lebih luas, tetapi tekad dan keberanian juga sama pentingnya. Ia pun mendorong generasi muda untuk tidak hanya bermimpi, tetapi juga bergerak.
“Jangan takut untuk mencoba selama ada kesempatan, pastikan tawaran pekerjaannya adalah pekerjaan yang resmi, bukan yang ilegal,” tegasnya.
Dari Bandung ke Kuwait, Delia bukan hanya membawa keterampilan seorang perawat, tetapi juga harapan banyak anak muda Indonesia yang ingin membuktikan bahwa mimpi bisa diraih, sejauh apa pun jaraknya. Dalam langkahnya yang tenang namun pasti, Delia seperti sedang mengingatkan bahwa keberanian sering kali lahir dari satu hal sederhana, mau mencoba.* (Humas)